Memang banyak hal yang membuat kita menangis maupun bahagia, bukan? Bahkan ada yang menangis ketika bahagia, khususnya kaum wanita.
Namun, apabila kita betul-betul tersedu-sedu menangis, air mata bercucuran di pipi karena yang terkasih tak menghibur kita lagi atau semua teman mengkhianati bahkan menjadi seteru kita, ini baru namanya menangis.
Apakah pernah mengangis karena dalam keadaan seperti ini? Seorang yang pernah mengalami keadaan seperti ini berbagi, “Aku sebagai orang berdukacita, namun senantiasa bersukacita; sebagai orang miskin, namun memperkaya banyak orang, sebagai orang yang tak bermilik, sekalipun kami memiliki segala sesuatu.”
Kalau kamu dalam keadaan ini, apakah bisa berkata demikian? Paul Gerhadt, seorang guru di Jerman pada abad ke-17, seharusnya mempunyai alasan untuk tidak bahagia. Istri dan 4 anaknya meninggal; Perang 30 tahun membawa kematian dan kehancuran di Jerman; konflik antar-masyarakat dan campur tangan politik memenuhi hidupnya dengan kesukaran.
Meskipun mengalami penderitaan pribadi yang besar, ia mampu menulis lebih dari 130 lagu yang sebagian besar bernuansakan sukacita dan kesetiaan kepada Tuhan. Berikut ini adalah kutipan sebagian syair dari salah satu lagu karya Gerhardt:
Biarlah kasih yang tiada terukur
Kini mengalir bagai hujan yang tercurah
Memberi kami harta yang paling berharga
Yang dapat diharapkan manusia atau diberikan Allah;
Dengar permohonan kami yang sungguh,
Hati yang bergumul mengalami kelegaan;
Berdiam dalam jemaat ini, Ruh kedamaian yang memberi keteduhan.
Rasa sakit dan dukacita adalah kenyataan hidup yang tak terelakkan. Justru cara kita menanggulinya yang terpenting. Apabila kita menggunakan sumber kekuatan kita sendiri, maka kebahagiaan kita bergantung pada keadaan. Sedangkan kalau sumber kekuatan kita adalah Tuhan maka sukacita kita bisa bertahan, walaupun keadaan tidak mendukung. Siapakah sumber kebagiaanmu?
Tim CVC
OasiszoneTM